JAM DIGITAL

Senin, 14 Oktober 2013

Untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah beberapa produk unggulan perikanan budidaya, diperlukan perubahan modernisasi sistem produksi.

 
Kebijakan strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang memfokuskan pada percepatan industrialisasi perikanan telah dicanangkan. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan produksi beberapa komoditas unggulan perikanan budidaya (akuakultur) dan meningkatkan nilai tambah produk-produk tersebut.
Program kebijakan KKP ini juga sejalan dengan permintaan pasar internasional yang mulai memperketat kualitas produk akuakultur. Tantangan tersebut kemudian diterjemahkan KKP dalam bentuk konsep ekonomi biru yang mengusung keseimbangan antara produksi dan keberlangsungan sistem produksi akuakultur itu sendiri.
“Untuk mencapai semua itu, kita harus melakukan perubahan modernisasi sistem produksi, melakukan integrasi dari berbagai aspek pendukung di berbagai sektor perikanan. Hal ini tidak hanya menjadi pekerjaan Kementerian Kelautan dan Perikanan saja melainkan pekerjaan lintas sektor,” kata Dr Ir Aryo Hanggono DEA, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Badan Litbang KP), KKP saat membuka Forum Inovasi Teknologi Akuakultur (FITA), di Mataram, NTB, baru-baru ini.
Menurut Aryo, tantangan ini adalah peluang yang sangat baik dalam pengembangan produk dan teknologi akuakultur ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam kerangka mendukung program industrialisasi akuakultur berbasis ekonomi biru. Salah satu tantangan dalam pengembangan produk unggulan perikanan budidaya saat ini adalah peningkatan dan kualitas produk ekspor perikanan.
“Harus diakui, kualitas dan mutu perikanan kita memang masih ada yang belum memenuhi standar internasional. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati, mari kita songsong tantangan tersebut menjadi peluang dalam rangka meningkatkan daya saing produksi perikanan,” tegas Aryo.
Untuk mendukung upaya tersebut, kata Aryo, Balitbang KP akan terus berinovasi dan berkreasi. Karena melalui inovasi dan kreasilah, Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara penghasil produk perikanan budidaya.
Selain meningkatkan produksi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya (P4B), Balitbang KP diharapkan juga dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangan perikanan budidaya di Indonesia. “Ini sangat penting, karena bagaimana pun juga sentra-sentra produksi perikanan budidaya ada di daerah-daerah,” jelas Aryo.

Standar Mutu
Disinggung mengenai standar mutu perikanan yang belum memenuhi standar internasional, Aryo menilai hal tersebut disebabkan oleh dua hal.  “Pertama, belum ada standar operasional prosedur (SOP). Kedua, sudah ada SOP-nya, tapi belum dilaksanakan oleh pembudidaya,” kata Aryo kepada Majalah Sains Indonesia, baru-baru ini.
Soal limbah, tambah Aryo, jika mau mene-rapkan konsep blue economy, limbah-limbah residu dari bekas tambak tidak boleh langsung dibuang. “Ini menjadi tantangan bagi Balitbang KP. Karena  itu sebelum air tersebut dibuang, sebaiknya ada proses terlebih dahulu. Karena biasanya, dalam proses pencucian atau penetralan air tambak, pembudidaya biasa menggunakan bahan kimia, misalnya kaporit. Nah, perlakuan seperti inilah ke depan kita harapkan tidak terjadi lagi,” tegas Aryo.
Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 19
Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar