24/09/2013 - Kategori : Siaran Pers
Siaran Pers
No. 124/PDSI/HM.310/IX/2013
Kegiatan
ini merupakan salah satu cara dalam rangka menanamkan jiwa kebaharian
semenjak dini kepada para generasi muda Indonesia, agar mempunyai
kesadaran tinggi akan hal ini, mengingat potensi kelautan dan perikanan
yang dimiliki Indonesia begitu besar dan dapat menjadi sumber
kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
McKinsey
Global Institute, dalam laporannya “The Archipelago Economy: Unleashing
Indonesia's Potential” menyebutkan bahwa sektor perikanan merupakan
salah satu sektor utama (disamping sektor jasa, pertanian, dan
sumberdaya alam) yang akan menghantarkan Indonesia sebagai negara yang
maju perekonomiannya pada tahun 2030, di mana ekonomi Indonesia akan
menempati posisi ke-7 Ekonomi Dunia, mengalahkan Jerman dan Inggris,
sehingga Indonesia harus terus berbenah diri melaksanakan pembangunan di
segala sektor termasuk membangun sumber daya alam kelautan dan
perikanan yang mempunyai potensi cukup besar untuk diolah secara
optimal. Hal ini dimaksudkan bahwa membangun sumberdaya alam kelautan
dan perikanan adalah mengelola SDM-nya, maka peningkatan kapasitas SDM
merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan industrialisasi
kelautan dan perikanan.
Guna
mewujudkan pengembangan SDM mendukung industrialisasi kelautan dan
perikanan, maka perlu terciptanya SDM sebagai pelaku industri yang mampu
meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk. Hal itu penting
dilakukan mengingat Indonesia sedang bersiap diri menyambut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 dan menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN
(ASEAN Economy Community) 2015. Untuk itu, KKP tetap konsisten menata
kembali pola pembangunan kelautan dan perikanan dengan mengadopsi konsep
pembangunan berkelanjutan yang lebih menekankan pada konsep Ekonomi
Biru.
Konsep Blue Economy
akan bertumpu pada pengembangan ekonomi rakyat secara komprehensif guna
mencapai pembangunan nasional secara keseluruhan. Konsepsi pembangunan
berkelanjutan (sustainable development) seperti konsep blue economy saat
ini telah menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan ekonomi di
berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan Presiden RI dalam berbagai
forum internasional telah menjadi pelopor dalam mempromosikan penerapan
konsep-konsep pembangunan yang berkelanjutan. Menindaklanjuti hal
tersebut, KKP yang bergerak di sektor kelautan dan perikanan harus
berada di garis terdepan untuk mempromosikan dan melaksanakan
prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. “Pada dasarnya semua
pihak sangat berkepentingan dengan pembangunan yang tidak mengorbankan
masa depan. Apa yang kita lakukan sekarang tidak hanya untuk hari ini
saja, tetapi juga harus menjadi warisan yang lebih baik bagi generasi
mendatang,” tegasnya.
Sharif menegaskan, prinsip blue economy
harus diimplementasikan dalam berbagai kebijakan KKP, terutama dalam
program percepatan industrialisasi kelautan dan perikanan. Blue economy
merupakan prinsip-prinsip yang harus dipegang dan kemudian
dioperasionalkan dalam industrialisasi kelautan dan perikanan. Konsep
ini selain mampu menciptakan industri kelautan dan perikanan yang ramah
lingkungan, juga dapat melipatgandakan pendapatan, menciptakan
kesempatan kerja dan menggerakan perekonomian masyarakat sekitar. “Untuk
itu, KKP akan terus mendorong para pemangku kepentingan, baik itu
pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi maupun masyarakat luas
untuk terus menggali peluang penerapan blue economy dan strategi
operasional dalam industrialisasi kelautan dan perikanan,” jelasnya.
Implementasi Blue Economy
Ekonomi
biru meliputi berbagai sektor yang cukup luas seperti perikanan dan
budidaya, pembangunan industri kelautan, wisata bahari, energi laut
serta perlindungan ekosistem laut dan pesisir. Sebagai implementasinya,
KKP berkomitmen penuh untuk meningkatkan produksi dan produktivitas
perikanan budidaya yang berdaya saing, berkeadilan, berkelanjutan
diiringi produk yang memenuhi standar mutu pangan (food
safety). Selain itu, KKP juga menerapkan sertifikasi perbenihan dan
pembudidayaan guna menghasilkan produk yang menganut jaminan mutu.
Kemudian, mempercepat pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana
budidaya serta mengembangkan kerjasama dan kemitraan dengan perbankan
maupun lembaga pembiayaan lainnya. Terkait implementasi konsep blue
economy, KKP tengah mengembangkan model industrialisasi rumput laut
berbasis blue economy, produk turanan industri udang dan crustasea,
Model industrialisasi Tuna, Tongkol, Cakalang berbasis ekonomi biru,
Minawisata berbasis sumberdaya kelautan dan lain sebagainya.
Industri pengolahan yang menganut prinsip blue economy
sudah berjalan, hal ini ditandai dengan berdirinya sejumlah pabrik
chitoasan yang saat ini terkonsentrasi di Banten dan Jawa Tengah.
Menurutnya, terdapat tiga negara yang potensial dalam menyerap
produk-produk turunan tersebut yakni Jepang, Korea dan China. Udang
merupakan salah satu dari komoditi ekspor yang menggiurkan, karena
memiliki peluang pasar dan harganya yang cukup tinggi di pangsa
internasional. Selama ini ekspor udang produk utamanya dalam bentuk
daging, sedangkan kepala dan kulitnya menjadi limbah hasil perikanan
yang tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan filosofi Blue Economy, sisa
hasil perikanan tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk turunan
bernilai tambah tinggi seperti chitin dan chitosan. Chitosan merupakan
salah satu bahan pengawet ikan selain garam, karena itu chitosan dapat
diaplikasikan terhadap produk perikanan sebagai pengganti formalin yang
terbilang berbahaya. “Pemanfaatan kulit udang menjadi “edible coating”
chitosan bukan saja memberikan nilai tambah pada usaha industri
pengolahan, akan tetapi juga dapat menanggulangi masalah pencemaran
lingkungan yang ditimbulkan,” ujarnya.
Kendati
tingginya akan permintaan ikan tidak berarti harus mengeksploitasi
sumber daya laut secara berlebihan, tetapi bagaimana dapat memanfaatkan
sumber daya tersebut secara berkelanjutan. Untuk itu, perlu memulai
kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengelola sumber
daya perikanan kita secara berkelanjutan. Karena itu, KKP berupaya untuk
mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan, baik pada perikanan
tangkap maupun budidaya untuk mendukung industrialisasi perikanan. KKP
tengah mengembangkan teknologi ramah lingkungan seperti, teknologi alat
tangkap ikan, instalansi pendingin dengan menggunakan tekanan air laut
sebagai penggerak, instalansi produksi es balok dengan bahan baku air
laut. “prinsipnya, Blue economy akan bersinergi dengan
pelaksanaan triple track strategy yakni, program pro-poor (pengentasan
kemiskinan), pro-growth (pertumbuhan), pro- job (perekrutan tenaga
kerja) dan pro-environment (pelestarian lingkungan)," tutupnya.
Jakarta, 24 September 2013
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
Pelaksana Tugas
Anang Noegroho
Narasumber:
1. Dr. Suseno Sukoyono
Kepala Badan Pengembangan SDMKP
2. Anang Noegroho
Plt. Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
silahkan klik link dibawah ini untuk melihat tulisan terkait lainnya:
http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/10006/Blue-Economy-Kembangkan-Inovasi-Untuk-Kesejahteraan/?category_id=34






0 komentar:
Posting Komentar